Pages

Powered by Blogger.

Friday, 10 January 2014

KMS

Dalam desir jiwa....
Diusiaku yang masih pagi
Dalam persimpangan jalan
Antara organisasi dan akademik
Yang selalu menghantuiku
Dalam menuju kedewasaan
Mulai kujejaki kehidupanku yang suram
Ku mulai langhkah awal
Di organisasi daerah asalku

KMS.....
Ku akan mengembangkan potensi dalam diriku
Menjadikanku insan yang bermanfaat
Sampai akhir kami menjadi satu

KMS......
Aku datang hanya berupa ranting yang kering
Yang terombang ambing tak tau arah
Dimana harus bertepi?????
Dimana ku harus mengadu????
Betapa besar beban yang harus ku pikul
Sementara waktu tak mampu menungguku
Hingga akhirnya
Ku coba masuk dalam ragamu
Raga yang bernafaskan persaudaraan
Menuju insan kesatria
Hingga ku kembali ke kampung halaman
Membawa tombak kemenangan
Terima kasih KMS.....

GURU



KALA FAJAR MELINTAS PAGI
ENGKAU BERKEMAS
DAN MELANGKAHKAN KAKI KESEKOLAH
DEMI MENDIDIK KAMI SEMUA
ANAK-ANAKMU
ANAK-ANAK BANGSA

SEGUDANG ILMU YANG KAU BERI PADAKU
KILAUNYA AKAN TERUS BERBEKAS DI TAMANKU
DITAMAN HATIKU
SEBAGAI BEKAL MENYONGSONG
MASA DEPAN YANG GEMILANG
DALAM MERAIH CITA-CITA

GURU……

BERSAMAMU KU PACU WAKTU DENGAN PASTI
DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI DIRI
UNTUK MEMENUHI HARAPANMU
MENCERDASKAN GENERASI MUDA

GURU………

HADIRMU PENUH ARTI BAGIKU
PEMBANGKIT SEMANGAT DAN ASAKU
SEBAGAI PELITA MASA DEPAN
YANG MEMBAWAKU PADA INDAHNYA DUNIA

DALAM MENGGAPAI CITA-CITA

Peramal Indian yang jitu

Peramal Indian yang jitu


Beberapa orang kru film sedang syuting disebuah lokasi di tengah gurun. Suatu hari seorang

 Indian tua mendatangi sutradara nya dan bilang,

" Besok hujan akan turun ."

Besoknya hujan turun. Seminggu kemudian, Indian tua itu mendatangi sutradara nya lagi

dan bilang, "Besok akan ada badai." Besoknya badai pun datang. "Orang Indian tua itu sangat

luar biasa " kata si sutradara.

Dia katakan kepada sekretarisnya untuk menyewa saja Indian tua itu untuk meramal cuaca sampai

syuting yang masih tersisa selesai.

Sejauh itu, setelah beberapa hari ramalannya selalu tepat, tiba tiba Indian tua itu tak muncul

 lagi selama dua minggu. Akhirnya si sutradara mendatangi rumah si Indian tua itu.

 " Besok kami akan syuting adegan yang sangat penting " kata si sutradara, " Dan kami sangat

tergantung kepada anda, seperti apa kira kira cuacanya besok hari".

Si Indian tua angkat bahu " Nggak tahu " katanya. " Radio saya lagi rusak ".

BELAJAR DARI BURUNG DAN CACING

BELAJAR DARI BURUNG DAN CACING

       Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.

       Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu Cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus puasa. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus berpuasa.

       Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya ?kantor? yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah. Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

       Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.

       Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

       Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ? Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?  padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.
Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.


santai